Kerangka Kerja Sistematis untuk Merancang Acara dari Akar Masalahnya
Kerangka kerja sistematis untuk mengidentifikasi kesenjangan pendidikan dan merancang program intervensi berkelanjutan bagi sekolah kurang mampu di Bandung.
5 menit baca
•
13 Juni 2026

Tahun ini, Yayasan SatuEdu memiliki 2 acara amal, yaitu Education For All (EFA) dan Mini Project (Minpro). Education For All (EFA) adalah acara kerelawanan pendidikan yang akan diadakan di lokasi yang kurang beruntung dan Minpro adalah acara yang lebih kecil dengan visi yang sama yang akan diadakan di sekitar Bandung. Selama 2 bulan terakhir, divisi Riset dan Pengembangan telah berupaya merancang kedua acara tersebut. Kami merancangnya dalam kolaborasi tim dengan alat-alat yang digunakan untuk membuat pekerjaan kami lebih efektif.
Mini Project (Minpro)
Minpro adalah acara yang berfungsi sebagai ruang kolaborasi bagi relawan dan komunitas untuk menciptakan ekosistem pembelajaran yang lebih berkelanjutan bagi para siswa. Untuk itu, acara ini akan dilaksanakan melalui langkah-langkah di bawah ini:
Inisiasi = Identifikasi lokasi, mencari sekolah potensial dengan latar belakang kurang beruntung
Riset = Instrumen survei lokasi, merancang pertanyaan yang akan diajukan pada pemetaan sosial (social mapping)
Persiapan = Penyusunan Proposal, menyusun draf proposal program untuk calon sponsor
Pengembangan = Desain Modul & Kurikulum, Mengolah data dari social mapping untuk dikembangkan
Operasional = Manajemen Acara, mengelola hal-hal operasional selama acara
Pelaporan = Publikasi, merangkum proses pembuatan acara dan acara itu sendiri untuk dipublikasikan di situs web SatuEdu.id
Sebelum melompat ke proses pengembangan acara dari akar masalahnya, penting untuk mengetahui proses pencariannya, yaitu social mapping. Kami memetakan dan melakukan survei ke institusi-institusi yang mengalami kesulitan di pinggiran Bandung. Dari total 30 sekolah yang termasuk dalam survei awal, hanya 10 sekolah yang memenuhi kriteria untuk melanjutkan ke tahap seleksi berikutnya. Sekolah-sekolah ini dipilih berdasarkan tiga indikator masalah utama:
Infrastruktur yang tidak memadai,
Akses minimal terhadap informasi tentang pendidikan tinggi bagi siswa, dan
Motivasi siswa yang rendah.
Melalui proses penyaringan ini, ditemukan bahwa semua 10 sekolah yang terpilih masih menghadapi masalah serius mengenai kompetensi guru dan sistem pengajaran yang tidak terorganisasi. Setelah analisis mendalam yang menyeluruh, tiga sekolah prioritas utama dipilih, di antaranya: SMA Islam Al-Mukhlis, SMA Al-Falah Banjaran, dan SMA Bhakti Putra sebagai target utama untuk pengembangan sistem pendidikan.
Ketiga sekolah ini mewakili 10% dari populasi survei awal, yang menandakan bahwa mereka adalah institusi yang paling mendesak membutuhkan bantuan, namun mereka memiliki potensi besar untuk berkembang jika diberikan metode dan alat yang tepat untuk menerapkannya.
Temuan survei mengkonfirmasi bahwa perubahan harus dimulai dengan reformasi manajemen instruksional. Berdasarkan hasil mapping, terdapat korelasi kuat antara metode pengajaran yang monoton dengan moral siswa yang rendah, di mana mayoritas guru masih mengandalkan metode konvensional tanpa panduan kurikulum yang adaptif dan interaktif. Oleh karena itu, program pengembangan akan berfokus pada pembuatan modul pengajaran kreatif dan penciptaan pusat informasi dan materi pembelajaran terpusat. Dengan meningkatkan sistem pengajaran di ketiga sekolah sasaran ini, diharapkan lingkungan belajar yang lebih dinamis akan tercipta, mampu menyalakan kembali motivasi siswa yang berkelanjutan, dan memicu semangat generasi pembelajar di masa depan. Social mapping ini diadakan antara 9 Maret–16 Maret 2026.
Setelah menyelesaikan social mapping, kini saatnya bagi tim Riset & Pengembangan untuk menemukan akar masalah dari kondisi yang tidak menguntungkan di sekolah-sekolah yang terpilih. Kami melakukan itu dengan alat, yang dinamakan analisis kesenjangan (gap analysis).
Gap Analysis
Gap analysis adalah metode sistematis yang digunakan untuk mengidentifikasi kesenjangan antara kondisi yang ada dengan kondisi yang diharapkan. Metode ini dikembangkan dengan membandingkan kondisi saat ini dengan tujuan yang ingin dicapai, serta mengidentifikasi perubahan yang diperlukan untuk menjembatani perbedaan tersebut. Menurut Gannod et al. (2005), gap analysis mencakup proses penentuan kondisi ideal, evaluasi kondisi aktual, dan identifikasi langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai kondisi yang diharapkan.
Dalam konteks pendidikan, penggunaan gap analysis juga telah diterapkan untuk mengevaluasi kesenjangan antara desain sistem pembelajaran dan realitas di lapangan. Bati dan Workneh (2021), melalui pendekatan design-reality gap analysis, menunjukkan bahwa perbedaan antara ekspektasi sistem pendidikan dan praktik di sekolah dapat diidentifikasi secara sistematis untuk menemukan akar masalah yang memengaruhi kualitas pembelajaran.
Dalam mengembangkan program Mini Project (Minpro), gap analysis juga digunakan untuk mengolah data yang didapatkan dari proses social mapping yang telah dilakukan divisi community project sebelumnya. Tujuan utama dari analisis ini adalah untuk memastikan bahwa program yang dirancang tidak hanya bersifat umum, tetapi benar-benar menjawab masalah yang terjadi di lapangan secara spesifik dan kontekstual.
Proses gap analysis yang dilakukan terdiri dari beberapa tahapan utama:
Tahap pertama adalah identifikasi kondisi yang ada (existing condition), yaitu memetakan kondisi nyata yang ditemukan di sekolah berdasarkan hasil observasi dan wawancara (social mapping). Tahap ini berfokus pada pemahaman komprehensif tentang situasi pembelajaran, termasuk dinamika kelas, metode pengajaran yang biasa digunakan guru, dan faktor-faktor yang memengaruhi proses pembelajaran.
Tahap kedua adalah penentuan kondisi ideal (ideal state), yang merupakan representasi dari kondisi pembelajaran yang diharapkan. Kondisi ideal ini mengacu pada praktik pembelajaran yang efektif, interaktif, dan mampu mendorong keterlibatan siswa secara aktif, serta selaras dengan tujuan pendidikan yang lebih luas.
Tahap ketiga adalah identifikasi kesenjangan (gap identification), dikembangkan dengan membandingkan kondisi aktual dan kondisi ideal. Perbedaan antara kedua kondisi ini menunjukkan area yang membutuhkan perhatian dan intervensi lebih lanjut. Pada tahap ini, analisis tidak hanya berhenti pada permukaan, tetapi juga diarahkan untuk menemukan akar masalah yang menyebabkan kesenjangan tersebut ada.
Tahap terakhir adalah perancangan rencana aksi (action plan), hal-hal yang akan dilakukan SatuEdu untuk membantu mereka mendapatkan kualitas pendidikan yang baik yang kita semua pantas dapatkan. Rencana-rencana tersebut dikembangkan secara strategis dengan mempertimbangkan kebutuhan spesifik masing-masing sekolah sehingga benar-benar dapat berdampak bagi mereka, guru dan siswa di sana. Singkatnya, action plan untuk mini project pertama ini adalah tentang memberikan inspirasi bagi para guru di 3 sekolah tentang bagaimana menyampaikan pendidikan secara lebih efektif dengan pendekatan yang berbeda selain kegiatan kelas biasa.
Hal ini sejalan dengan temuan dalam penelitian oleh Bati dan Workneh (2021), kesenjangan dalam konteks pendidikan sering dipengaruhi oleh faktor kapasitas dan praktik mengajar yang dilakukan oleh para pendidik. Ini menunjukkan bahwa kesenjangan tidak selalu disebabkan oleh keterbatasan kurikulum struktural, meskipun itu juga umum, tetapi juga oleh bagaimana kurikulum diimplementasikan di dalam kelas.
Referensi
Bati, T. B., & Workneh, A. W. (2020). Evaluating integrated use of information technologies in secondary schools of Ethiopia using design‐reality gap analysis: A school‐level study. The Electronic Journal of Information Systems in Developing Countries, 87(1). https://doi.org/10.1002/isd2.12148
Gannod, B., Gannod, G., & Henderson. (2005). Course, Program, and Curriculum Gaps: Assessing Curricula for Targeted Change. Proceedings Frontiers in Education 35th Annual Conference, T3C. https://doi.org/10.1109/fie.2005.1611930



